Pulang

A story by AF.Fathoni

“Benar kamu mau pulang dulu ke riau tahun ini?”

“iya nek. Soalnya kasihan ibu, sudah berkali-kali meminta aku pulang tapi nggak pernah dituruti. Mumpung sekarang sempet.”

“ya sudah, nenek cuman titip salam saja sama ibu kamu, nenek hanya bisa berdo’a semoga kamu selamat. Hati-hati dijalan ya cu!”

“tentu nek, saya juga bisa jaga diri.”

“ya sudah kamu sekarang siap-siap saja, ayo sini nenek bantuin beresin bajunya.”

Aku dan nenek pun membereskan baju untuk dibawa besok pagi. Kulihat raut wajah nenek sepertinya sejih, mungkin karena aku akan meninggalkannya. Tapi harus gimana lagi, sudah lebih dari empat tahun aku belum pernah pulang ke riau. Disanalah kedua orangtuaku beserta saudara-saudaraku tinggal. Dulu aku yang memutuskan untuk kuliah dibandung. Saat ini aku pulang karena baru saja aku menyelesaikan sarjana keperawatan. karena ada sedikit libur sekalian aku memenuhi permintaan ibu ku. Tapi dalam hati kecilku sebenarnya aku belum mau pulang sekarang, malu… soalnya hanya bergelar “S.Kep” mana bisa aku bekerja sebagai perawat, sesuai ketentuan aku harus mengambil program profesi Ners supaya bisa bekerja sebagai perawat. Tadinya tahun ini aku mau ambil ners-nya. Tapi karena pihak akademik dari kampusku tidak memberi izin untuk mengambil ners dikampus lain, sedangkan dikampusku program ners baru dimulai tahun depan alias ketika angkatan adek kelasku selesai diwisuda. Dengan bsangat terpaksa aku harus memendam keinginan bekerja dirumah sakit sebagai perawat minimal satu tahun ini. Mungkin ini saat yang tepat untuk menjenguk daerah yang selama ini mebiayai kuliah ku yang tak bisa dikatakan murah, sekalian kepulanganku kali ini ingin reunian dengan teman-teman semasa sma kemarin.

Besok pagi aku berangkat sendirian, tidak ditemani oleh siapapun. Karna ku sudah terbiasa sendiri dalam segala hal. Malam ini aku gak bisa tidur, mungkin karna terlalu banyak mempersiapkan kepulangan ku. Untungnya aku bisa juga memejamkan mata walau dengan penuh perjuangan dan itupun hanya berdurasi tidak lebih dari 6o menit, suara adzan subuh membangunkanku.

“nenek sekeluarga disini sekali lagi hanya bisa mendoakan kamu saja, cing salamet nya cu. Apalagi sekarang banyak musibah kecelakaan.” Tanpa kuketahui nenek sudah berada dipintu kamar ketika aku baru saja selesai mempersiapkan semua dan siap untuk berabgkat, namun aku melihat ada butiran bening mengalir dipipinya yang masih sedikit kencang.

“iya nek. Nenek ngga usah khawatir dan jangan sedih.” Ku seka air mata nenek dengan tisu yang ada ditangan ku.

“jang, cucu nenek nu kasep, salam nya kanggo mamah sakeluarga, nenek tidak bisa ngasih apapun kekamu, nenek cuman ngasih ini buat kamu dijalan.” Nenek menarik lengan kananku dan menaruh sebungkus plastik hitam ditanganku.

“apa ini nek?” aku penasaran, sambil kulihat isi plasti itu dari luar.

“itu cuman makanan kecil buat kamu dimobil nanti.”

Dibelakangku paman dan bibiku mengangkati barang-barang bawaan ku kedepan rumah.

“ya sudah, aku pergi dulu ya nek.”

Ku salamin satu persatu orang-orang yang dari tadi memperhatikanku, selain nenek yang berbincang denganku ternyata ada kakek, oom dan tanteku.

“dadah semuanya… aku janji akan balik lagi.” Kata terakhir kuucapkan pada mereka, kakiku tanpa disuruh langsung menaiki sebuah angkutan umum yang akan membawaku keterminal bus yang akan mengantarku keriau. Tepat 5 menit sebelum bus yang telah aku pesan berangkat, aku telah selesai menaikan semua barangku dan akupun telah menemukan tempat duduku dibus yang kupesan beberapa hari yang lalu itu. Bus eksecutive jurusan bandung-pekan baru itupun berangkat.

Harusnya aku naik pesawat supaya cepat sampai, namun aku sengaja menggunakan bus untuk pulang keriau. Karena dengan bus aku bisa menikmati pemandangan disisi jalan sepanjang bandung pekan baru. Dengan bus juga ku bisa naik kapal laut. Tak ada sedikitpun rasa khawatir dengan keselamatanku walaupun saat itu sedang marak terjadi kecelakaan transportasi.

Perjalanan panjangpu dimulai. Didalam bus aku duduk sendiri. Bangku bernomor 14 disebelahku masih kosong. Aku duduk dibangku yang dekat dengan kaca, tentu saja tujuannya agar bebas melihat pemandangan diluar yang indah, walaupun terkadang terlihat juga pemandangan yang kurang sedap dimata. Selat sunda telah terlewati, namun bangju disebelahku belum juga berpenghuni. Artinya selama perjalanan 5 jam dari bandung aku hanya berteman sepi. Mungkin karena saat itu bukan musim liburan sekolah, sehingga penumpangnya sedikit, atau mungkin juga karena efek pemberitaan yang sering muncul di Tv tentang banyaknya kecelakaan transportasi sehingga orang lebih memilih untuk tidak bepergian.

Perjalanan yang berlangsung tidak lebih dari 36 jam itu aku lalui dengan sendiri. Beberapa majalah dan buku yang menemani perjalananku tergeletak dikursi bernomor 14. entah sudah berapa hutan, sungai besar dan pasar kumuh yang aku saksikan dari kaca bus yang bersih itu. Sepanjang perjalanan aku mengisinya dengan membaca, ngemil, melihat pemandangan, tidur serta sesekali ketoilet yang ada dibelakang bus berpendingin udara itu. Setiap 6 jam sekali bus itu membawaku kerestoran untuk mengisi perut, mandi dan shalat.

Akhirnya sampai juga ditujuan, tapi aku harus manggunakan sekali lagi angkutan umum untuk sampai kerumah orang tuaku. Dalam perjalanan kupandangi sekeliling jalan, semuanya tidak ada yang berubah sejak kutinggalkan 4 tahun lalu. Hanya rumput yang menghiasi sisi jalan yang berubah, semakin semak. Jalan menuju rumahpun tak berubah, masih berbatu seperti dulu, rumah yang kutinggalkan semasa kuliah pun tak ada perubahan yang berarti. Mungkin kedua orangtuaku tidak sempat memikirkan untuk renovasi rumah, karena pikiran mereka selalu tertuju untuk memenuhi biaya kuliahku serta biaya hidupku yang sedikit murah tapi banyak mahalnya. Dengan berdebar-debar aku ketuk pintu rumah bercat hijau muda itu. Terdengar sayup-sayup suara langkah kaki menuju pintu yang kuketuk. Sesaat kemudian ada seseorang membukakan kunci dan…

“a… ahmad!!!” dengan rasa kaget setengah tidak percaya adik perempuanku memandang wajahku. Tiba-tiba iya berteriak dan berlari kebelakang tanpa terlebih dahulu menyuruhku masuk.

“mamah…. a ahmad pulang…..”

Rasa lelah yang mengerayangiku membawaku serta merta masuk kerumah berlantai keramik pink, kubawa ransel ku keruangan yang dulu merupakan markasku. Tak ada yang berubah… desahku sesaat setelah aku masuk, hanya saja bingkai foto yang dulu bergambar potertku kini telah berganti gambar anak laki-laki berseragam smp. Ternyata itu foto adik laki-laki ku yang dulu kutinggal masih kelas 3 sd. Setan kantuk yang telah menyerangku sejak diangkutan umum tadi membuatku langsung tertidur ketika tubuhku merebah disebuah kasur per berukuran besar sampai akhirnya suara ayah membangunkanku.

“ahmad kenapa tidak telpon ayah, ayah kan bisa jemput kamu keterminal.”

Walau masih diselimuti kantuk, akhirnya aku bangun dari tempat tidur.

“eh ayah, tadinya aku pengen bikin suprize, tapi waktu datang tadi yang ada cuman dian, gak rame jadinya.”

“ya sudah, sudah sore ini, mandi dulu sanah! Ayah tunggu dimeja makan ya.”

“iya ayah” sambil mengambil handuk aku melihat jam diatas meja belajar, pukul 5 sore. “sudah satu jam aku tertidur.” Ucapku lirih.

“sini ahmad duduk disini, ini kan tempat duduk kamu dulu.”

Ayah langsung angkat bicara ketika  aku baru saja keluar kamar.

“a ahmad udah pulang, jadi duduk ditempat semula.”

Dudu, adik leki-lakiku menimpali ayah bicara.

“oh jadi dudu suka nempatin punya aa ya? Ya udah kalau dudu masih mau ditempat aa biar aa yang pindah aja.”

“ah biarin, anak bungsu kan bebas mau dimana aja.”

“hayo dimakan… ” tiba-tiba ibu bicara dari arah belakang, dibelakang ibu ada dian sedang membawa semangkuk sambal ayam goreng.

“ayam kesukaan a ahmad sudah datang. Ayo makan!”

Tanpa di aba-aba ayah pun langsung memimpin doa, kamipun berlima makan bersama.

“tau ga a? Selama aa ga ada, dudu mengambil alih semuanya tentang aa. Kamar, kursi makan, lemari pakaian, bahkan semua pernik aa dikamar dipindahkan dan diganti sama milik dudu.” Dian memecah keheningan pertarungan dimeja makan itu, dudu yang merasa dijadikan objek langsung ikut bicara.

“yah moga aja dengan aku ngikutin jejak aa. Dudu bisa seperti aa.”

Aku yang mendengar itu jadi terharu, sambutan selamat datang dari mereka sangat manis, bahkan dudu menganggap aku sangat berharga dimatanya sampai-sampai ia mengadopsi seluruh keadaanku. Padahal sewaktu ku tinggal dulu, ia belum mengerti apa-apa. Walaupun tahun ini ia baru tahun pertama di smp, tapi kematangan pikiran dudu sudah terlihat.

Setelah selesai makan, kami pun langsung mrnuju ruang sholat, memang saat itu belum masuk waktu isya. Kami mengisi penantian waktu isya dengan membaca buku yang ada diruang shalat sekaligus ruang baca milik ayah. Kebiasaan baru sepertinya, sewaktu dulu belum ada budaya baca buku bersama seperti ini.

Setelah selesai shalat isya kami semua keruangan TV. Sambil melihat acara tv kami saling bercerita, mengeluarkan yneg-uneg masing-masing.

Seminggu telah berlalu, aku berada dirumah ayah tanpa kegiatan berarti. Dpagi hari, disaat kedua adikku sekolah, ayah dan ibuku bekerja aku dirumah sendirian. Sesekali aku mengunjungi teman-teman sma ku. Aku juga meliha-lihat taman bunga yang tak berukuran besar yang terletak didepan rumah ayah. Dulu sewaktu aku tinggal disini, aku selalu merawat taman ini. Saat ini taman ini pun masih terawat, sepertinya kedua adikku yang menggantikan peranku dulu.

Saat malam minggu aku duduk diberanda rumah sendirian, aku pandangi taman yang diterangi temaram sinar bulan, lampu 5 wat dipojok taman itu tidak bisa mengalahkan terangnya cahaya bulan malam itu.

“duh a ahmad yang lagi melamunin sang pacar nun jauh disana. Kangen ya? Baru juga seminggu.” Tiba-tiba suara dian membuyarkan lamunan ku, mungkin dian tahu kalau aku sedang melamun, makanya ia menghampiriku.

“a ahmad lagi ngelamunin siapa?”

“ah siapa yang lagi ngelamun, cuman lagi mikir aja.”

“pasti lagi mikirin gimana caranga sang pujaan hati bisa terbang dari bandung kesini malam ini.”

“yeh… kamu sok tau aja.”

“eh ko aa ga pernag cerita soal pacar sih. Kalau ama ayah atau ama ibu bolehlah cerita sang doi disembunyikan, tapi kalau kedian masa mau di hidden juga.”

“duh dian kamu makin ngaco deh, eh dudu mana?”

“ada, baru aja pulang main, tadi habis ikut aku sama ibu keluar sebentar. A ko gak dijawab pertanyaanku sih?”

“ya udah aa jawaab, mau yang bohong atau yang jujur?” kini aku balik bertanya dengan nada sedikit menawarkan.

“hmmm karena aku sering dibohongi, maka aku pilih yang jujur dech. Eh emang pembohong bisa jujur?”

“emang siapa pembohong?”

“ya aa ahmad, salah siapa nawarin begitu.”

“ya udah, dengerinnya! Sampai saat ini pun aa belum pernah punya pacar…”

“ah pembohong beraksi lagi nih!”

“denger dulu. Kan aku udah bilang kalau aku jujur. Beneran aku selama kuliah belum pernah menyelipkan seorang wanita dihatiku, jadi hatiku still virgin. Kamu juga kan tahu kalau aa dibandung ngekos walaupun dekat nenek. Dalam kesendirian dikosan, aku selalu berbalut sepi, sepulang dari kampus, tak ada yang kulakukan lagi diluar. Aku juga selalu sendiri dikotak berukuran 3 X 3 m itu. Jadi mana ada hawa dihati ku.”

“kan teman-teman sekampus pada cantik, masa gak ada yang nyantol?”

 “ah apaan sih kamu, tau apa kamu soal perasaan? Aa sendiri sadar bahwa aa bukan orang yang mudah jatuh cinta. Malah sahabat saja gak tentu. Makanya semua masalah selalu dipecahkan sendiri. Makanya kamu kalau mau pisah dari ortu harus pikir-pikir dulu. Kalau ngga kamu bisa ditemenin sahabat aa.”

“siapa…?”

“sapi aeh sepi…”

“alah itukan aa, kalau aku belum tentu. Tapi bener aa gak bohong?”

“ya iyalah, ngapain juga hari gini pakai bohong.”

“Pantesan… yang dian lihat dari wajah aa cuman keheningan, sedikit dibumbui raut rame aliah banyak sepinya. Sesedih itukah hidup mu kang ahmad?”

“aa juga gak tau, lagian aku jug agak pernah memilih begini. Semua berjalan tanpa diawali, sedangkan aa pun gak pernag ingin mengakhiri. Sepi dan sendiri seolah jadi sahabat sejati. Tapi semua itu ada hikmahnya, mungkin karena kesendirian ini aa bisa mengukir prestasi tanpa ada gangguan berarti. Walaupun ada kata dilubuk hati…. eh ko aa jadi ceramah gini yah, sepertinya dah malam banget nih, tidur yuk..!” dengan cepat aku masuk kerumah untuk menghindari pertanyaan adikku yang berikutnya.

Setelah kejadian malam itu, aku dan kedua adikku jadi sering ngimpul. Saling bercerita, saling bercanda dan seribu saling lainnya. Menyenangkan sekali rasanya. Hal yang belum pernah dilakukan dahulu. Diakhir minggu kami pergi jalan-jlan. Mengunjungi tempat yang dulu sering kudatangi bersama teman sma dahulu.

Sebulan berlalu, aku mulai merasakan teguran halus dari ayah ku. Mungkin karena setelah lulus kuliah aku belum mencari kerja, namun mereka mengerti, kepulanganku saat ini bukan untuk mengaplikasikan ilmu yang kudapat dari bangku kuliah. Malam itu aku berdiskusi dengan kedua orang tuaku. Aku jelaskan kepada mereka semua yang ada dan terjadi padaku, juga masalah keharusan mengambil profesi ners itu.

“ayah, ibu. Aku minta maaf. Walaupun aku sudah diwisuda, tapi sebenarnya aku belum selesai kuliah. Aku harus mengambil ners. Jadi aku minta untuk terakhir kalinya ayah dan ibu mahu merepotkan diri untuk kembali membiayaiku lagi. Kalau ayah dan ibu mengijinkan, besok lusa aku akan kebandung lagi untuk daftar kuliah lagi.”

Aku berhasil membujuk mereka. Tentu saja aku tak menceritakan masalah tak diizinkannya mengambil ners diluar kampus awalku. Tapi aku rasa hal itu bukan masalah karna aku rasa aku bisa tahun ini ikut ners dengan cara apapun. Hingga akhirnya hari minggu ini aku siap meluncur menuju bandung.

“mamah, bapah aku pulang dulu yah.”

Tampa sengaja bibirku mengatakan pulang, padahal secara nyata rumahku masih rumah orang tuaku disini.

“maksud ahmad, ahmad kebandung dulu, mau lanjutin kuliah. Dudu, dian, aa kuliah lagi supaya aa bisa kerja dan bisa membiayai kuliah kalian nanti.”

“iya aa ku, dian harap nanti ketika aa kembali lagi kesini, ada mahluk cantik disisi aa.’

“ah kamu malah bercanda.” Tanpa terasa permata jernih mengalir dipipiku, aku merasa kalau saat itu adalah terakhir aku bertemu mereka. Tapi kutepis jauh-jauh rasa itu. Saat ku lirik wajah ibuku. Air mata mengalir dipipinya. Entah ada apa dihatinya, sehingga terlihat berat melepasku kembali.

“ya sudah, ayah ibu, dudu dan dian aku pamit dulu.”

“iya nak, kamu hati-hati dan jaga dirimu baik-baik. Kami akan selalu menunggumu.”

“iya… yu semuanya…” aku langsung masuk kedalam kabin mobil yang dari tadi menungguku, kendaraan roda empat itu berjalan kencang menuju terminal keberangkatan. Sepanjang jalan hatiku gak tentu rasa, seolah semua rasa tercampur menjadi satu dan menjadi satu rasa yang belum pernah ada didunia ini.

Sesaat setelah pesawat jurusan pekan baru jakarta melayang, tiba-tiba terjadi guncangan hebat. Aku merasa terbang lebih tinggi, dan akhirnya aku tersadar, namun saat aku terbangun, aku berada ditempat yang sangat luas, warna putih membentang tanpa batas, dan tanpa sengaja mulutku berbisik. “sepi….” “sendiri…” 

Iklan

One Response to Pulang

  1. thi3 berkata:

    walo’ semua nie nyakitin,,,
    may_be nie
    mrupakan jalan yg t’baik.

    _ ^_~ _

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: