Hujan

A story by AF.Fathoni

Rintikan hujan sore itu membuat ku mau tak mau harus diam dirumah, biasanya kalau tidak hujan aku main-main dengan genk ku, biasa lah cuci mata, keliling-keliling kompleks apalagi di blok c. wah cowoknya cakep-cakep.

Musim hujan ini aku sering melamun. Entah tau kenapa bila turun hujan aku selalu ingat masa lalu ku. Masa yang paling bahagia yang berakhir dengan kisah tragis.

Waktu itu hari sabtu, tepat pukul lima sore, ngilangin rasa BT karena seharian ulangan, sudah gitu soalnya susah-sasah banget. Lagi asyik-asyiknya jalan bareng genk, tiba-tiba ada cowok ganteng. Tapi saying langit sore itu tak secerah hatiku. Rupanya teman-teman ku sudah pada tahu kalau cowok yang ada didepan itu hendak pedekate sama aku.

“udah dulu ya ke, kita jalan duluan. Itu didepan ada Luciana, kami kesana yah?” ujar titis sambil berlari meninggalkan aku sendirian.

“makasih ya tis, duluan dech nanti kita ketemu lagi” jawabku mengiringi derap kakinya berlari kearah barat. Sementara itu seorang cowok sudah stand didepanku, lalu kami pun jalan bareng

Eh tau nggak? Nih cowok yang deketin aku itu namanya rendy. Cocok dengan tampangnya yang mirip dengan doni damara. Tanya punya Tanya rupanya dia tinggal di blok G lintas 17 dekat dengan rumah tenteku.

Karena keasyikan jalan sembari cerita ini itu, tidak sadar kalau el nina alias hujan turun. Terpaksa dah kita berlari-lari sambil memegang kepala masing-masing mencari tempat berteduh. Untung rupanya disamping jalan ada sebuah pohon rindang plus dibawahnya ada sepasang kursi kayu tempat bersantai-santai.

“ren situ yuk! Itung-itung nungguin hujan reda. Ayo dech!”

Sial memang, walaupun dibawah pohon rindang, tuh hujan tetap saja memeluk kita berdua sampai pakaian kita kuyup semua. Sore itu dingin sekali, dikursi kecil itu kami duduk saling berdekatan karena kedinginan. Seperti orang pacaran aja. Ternyata duduk didekat cowok enak juga ya. Walaupun jantungku gak ada henti-hentinya berdebar hebat. Tiba-tiba…

“ke ? boleh ngga aku bicara dengan kamu?”

“memangnya dari tadi kita nggak bicara? Serius yah? Ada yang penting?”

“memang penting aeh serius. Aku sudah lama ini nginccar kamu, apalagi kalau kalian  sendang JJS. Kampang sekali aku menemukanmu. Entah perasaan apa kalau melihat kamu hati aku selalu deg deg seer. Mwlihat wajahmu yang ayu, melihat tingkahmu yang kocak, tanpa membohongi diri sebenarnya aku sayang dan cinta kamu.”

Dinginnya air hujan ternyata dapat terkalahkan oleh perkataan rendy. Aku nggak nyangk akalau dia bakal ngucapin hal itu. Walaupun dihatiku aku ingin menjawab ya atas tembakannya. Namun diri tatapan matanya saja sepertinya ia sudah tau dan yakin kalau cintanya bakal terkabul.

“ike gimana mau ngga jadi pacar ku?”

“eh.. gi-gi-gimana ya? A-a-ku. Eh iya” maksud kamu apa ya? Eh iya aku cinta kamu”

Aku pun merasa aneh dengan diriku, sepertinya aku dipanah dewa asmara, kok bias ya aku menerima cintanya secepat itu, padahal baru pertama ketemu.

Akhirnya resmi kita jadian dibawah pohon rindang disaksikan guyuran hujan hari sabtu pukul 17 lewat 30 menit 17 detik. Duh sepertinya bersejarah banget hari ini.

“ren udah duku yah! Dah sore nih, ntar nyokap nyariin. Dingin lagi nih, hujannya kok nggak berhenti yah.”

“oke deck ke, sampai jumpa nanti malam.”

“apa…!!! Nanti malam? Jadi kamu mau….?”

“yah, aku mau kerumah kamu nanti malam, biasalah boleh kan malam ini aku meluncurkan paket perdana kencan kita. Boleh dong ya!”

“iya dech terserah kamu. Aku tunggu nanti dirumah yah!”

***

 “Tok Tok Tok, permisi….”

“Vie bukain pintu tuh, kakak sibuk nih..!”

“iya kak.” Dengan sigap evie berlari kedepan untuk bukain pintu.

“eh… siapah ya dan nyari siapa?”

“saya temannya ike, akenya ada?”

“ada ada tuh didalam. Masuk dulu yuk.! Ntar aku panggilin ikenya….”

“ya.. terimakasih”

 

“ka kike tumben tuh malam minggu ada yang ngapelin.”

“apa vie? Ngapelin?”

“itu lhooo didepan ada cowok, cakeup juga sih, katanya nyariin orang yang bernama i…….k…….e.”

“apa……..? ya udah aku temuin dia dulu yah, eh dimana”

“Dikamar mandi.. yah diruang tamu lah……”

Gila??? denger kata cowok ike langsung ngacir. Padahal selama ini belum ada cowok yang biasanya dating kerumah, paling juga bang ridwan, eko, sirden, itu pun siang. Kalau yang ini sepertinya special sekali sepertinya..

 

“ehh rendy kirain siapa?”

“kan aku dah janji mau dating.”

“kirain kamu cumin bercanda. Tunggu dulu yah aku ganti baju dulu.”

“siapa non?” bi inah pembantu ku nanya ketika dia tahu kalau dirumah ada tamu.

“ada aja. Buatin minum ya bi buat ike dan dia!”

“iya non…”

 

“sorry ren agak laman dikit.”

“ah nggak apa apa kok. Eh kita mau kemana nih?”

“terserah kamu dech, kan kamu yang ngajak. Tapi entar dulu minumannya belum datang”

“ok lah kita ngobrol dulu, tapi bonyok mu kemana? Kok sepi banget?”

“ohh bapak aku ada diluar kota dan mami aku masih dikantor, biasanya pulang jam sepuluhan.”

“memangnya ngapain sih nanyain bokap?”

“nggak apa apa. Yuk kita jalan…!!!”

***

 

“kak ike kok hari ini kelihatannya senang banget, pastinya gara-gara tadi malam nih.”

“ah kamu mau tahu aja urusan cewex.”

“lho aku kan cewex juga, eh ngomong-ngomong siapasih namanya?”

“ada dech. Ntar aku kasih tahu plus aku kenalin kalau dia main lagi. Yah?”

“bener nih? “

“ya iya lah masa aku bohong.”

“kan bisa aja.”

***

 

Kalau sudah kasmaran, pacaran yang lama pun nggak kerasa, tahu-tahu kita pacaran udah bertahun-tahun lamanya, makin lama hubungan kami makin erat saja. Apa lagi kalau bokap nyokap udah pada ngijinin alias pada setuju.

Walau udah dua tahun pacaran, rendy tetap rajin ngapelin. Paling minim seminggu sekali. Entah udah berapa kali ia ngapelin dalam dua tahun terakhir ini. Makin lama dia makin serius. Katanya sih dia mau ngajak tunangan alias tukaran cincin dengan aku. Biar rada resmi ceritanya. Tapi menurut aku sama aja, toh itu maunya rendy aja. Orang tuanya juga sudah maksa kami untuk segera tunagan padahal orang tua ku santai-santai aja.

Kalau akau sih nggak banyak piker. Asal nggak mengganggu studiku ya nggak masalah. Bentar lagi aku mau ujian semester, kira-kira bakal mengganggu enggak yah? Pasti enggak lah…

***

 

“ke …. Kamu ikut yah! Aku mau ke plaza. Siap-siap dech aku ntar jemput kamu yah…!”

Aku diajak rendi melalui telepon. Mau nggak mau aku siap-siap juga. “Tiiiiin…. Tiiiiiin…. Tiiiiin….” Eh rendi dah datang.

“udah siap ke?”

“siap… ayo berangkat!”

“ibu aku bilang tunagannya mau dilangsungkan besok, jadi aku ngajak kamu untuk beli cincin. Mau kan?”

“iya deh. memang kita mau ketoko mana?”

“mana aja lah. Kita cari yang bagus.”

 

Selesai dari plaza dan mendapatin barang yang dicari kami pun pulang. Tanpak dilangit awan hitam tebal menggelantung penuh.

“ren cepetan. Hujan tuh.”

“iya yak e…”

Ditengah perjalanan hujan turun disertai kilatan-kilatan petir, aku sebagai cewek pastinya takut dengan keadaa itu. Sesuai keadaan rendipun semakin cepat mengendarai mobilnya. Saat melaju jalan licin tiba-tiba kepalaku pusing dan. Rendy   awasss……. Akhhh….

Saat aku buka mata ku tanpak banyak sekali orang disekelilingku. Dalam hatiku bertanya-tanya ada apakah ini.

“ike udah bangun… ike nggak apa-apa kamu?” tiba-tiba aku dengar mama bicara

“nggak ada apa-apa kok, kamu harus tenag aja dulu yah…”

“iya ma, aku nggak apa apa dan aku juga udah tenan ko sekarang…” “tapi ada apa ma ko rame gini dan aku ada dimana? Dan apa yang terjadi?”

“begini… kamu harus sabar ya nak! Baru saja kamu kecelakaan. Mobil kalian terguling karena menggeleng ular besar yang sedang melintas.

“re- ren-rendy mana ma? Dia nggak apa apa kan ma?”

“rendi…… rendy …….” Kulihat permata bening mengalir di pipi mama “Rendi sudah meninggalkan kita semua. Ia tewas……”

“apa…..????” seiring petir diluar menggelegar, petir dihatikupun ikut meledak. Aku nggak bisa kubayangkan saat itu. Kami baru saja genap dua tahun dan akan bertunangan, harus terpisah hanya gara-gara hujan badai itu. Andai saja aku………… andai saja, dia…….. dan entah andai apa lagi dan aku nggak tau harus bagai mana lkagi….

***

Tak terasa air mata telah membasahi keduabelah pipiku hingga ke baju ku. Tanpa henti aku memandangi hujan diluar sore itu. Dalam hati aku masih merasakan perih atas peristiwa itu dan akupun menyesali mengapa pertemuan yang diawali dengan hujan harus diakhiri dengan hujan badai tragis itu….

TAMAT

One Response to Hujan

  1. thi3 berkata:

    wuiiihhhhhhhh,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

    co cweet,,,

    kisah nyata nie yee,,,

    hee…

    peace ahhh,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: