Emansipasi Cinta

A story by AF.Fathoni

 “tini kamu mau ikut ngga?”

“kemana? Biasanya juga kamu mah ke mall, ya kan?”

“yah… tau aja kamu, tapi kali ini aku kesana mau cari kebenaran informasi yang aku dapat dari radio tadi pagi.”

“hah… info apa? Ah paling juga informasi harga baju, atau apalah mengenai mode, betul ga?”

“betul eneng, tapi kali ini kamu salah besar. Hayu ah tuh mobilnya udah datang, kamu mau ikut ngga?”

“ya… ya! … aku ikut kali ini!”

sambil berlari tini alias kartini mengejar anita yang sudah duluan naik kesebuah mobil angkutan umum.

“tadi pagi tuh aku denger diradio kalau dimall itu akan mengadakan acara perlombaan untuk mengisi hari kartini.”

“hari gua doonk…”

“eh… ntar dulu, kamu jangan dulu ngomong. Disana tuh mau ngadain lomba peragaan busana, kebaya gitu deh. Trus lomba baca surat-sarat katrini, deelel pokoknamah ga jauh beda sama perayaan kartini waktu kita ikut dialun-alun kota taun kemaren.”

“lalu apanya yang menarik?”

“aku mau daptarin kamu, kamu cocok banget pake kebaya, masih inget kan waktu kamu pake kebaya pas acara ultah ku kemarin?”

“lho ko jadi aku yang kena?”

“karena aku percaya, dihari kartini nanti pasti kartini akan memenangkan lomba peragaan busana itu.”

“ah sok tahu kamu.”

***

Kartini dan temannya turun dari mobil itu, mereka berjalan menuju ke sebuah pusat perbelanjaan ternama dikota bandung. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan salah seorang senior mereka dikampus, namanya andi, ia anak ilmu keperawatan semester empat.

“eh… kang andi. A..a..abis dari mana?” tanya tini dengan gugup berlaga akrab.

Disampingnya anita ‘cengar-cengir’ melihat sahabatnya salah tingkah. Anita tahu kalau kalau kartini punya rasa beda ke andi, sepertinya andi juga tahu hal itu, malah sepertinya ada jalan buat mereka jadian, tapi sampai saat ini mereka belum juga resmi menjadi pengisi dihati masing-masing.

“tini! Udah yu. Lihat tuh padedet ditempat pendaftaran, ntar kita kehabisan formulir lagi, mau ikut atau mau disini?”

“ah kamu aja, aku malas ngantri.”

Tini menjawab pendek, padaahal dalam hatinya tini ingin tetep bersama sang idola sampai anita selesai, mumpung lagi sempet. Soalnya kalau dikampus mana bisa, lagian mereka belum pacaran.

“memangnya sianita mau daftr apa tin?”

 “o..o..oh.itu.. bukan dia, maksud aku dia daftarin aku dilomba hari kartini”

“wah pasti seru tuh. Eit tapi kamu mau ikut apaan? Nyanyi… makan atau… ”

“ih… apaan sih, basi banget tau.. ga lucu lagi. Kata sinita aku disuruh ikut lomba peragaan busana, pake konde, pake kebaya. Deelel.”

“eh aku dukung dech… moga kartini yang menang”

“amiennn… eh nita dah datang  tuh, aku pulang dulu ya kang?”

“besok ketemuan dikantin yuk!”

“hayu aja, tapi terserah besok aja dech….”

Seiring andi menuju sebuah parkir, nita menghampiri tini dengan wajah sedikit senyum, kelihatannya ada yang ia sembunyikan…

“deuh yang baru selesai kencan.”

“eh … apan sih. Kita pilang?”

pulang apaan, kamu harus cari baju buat perlombaan yang tinggal lima hari lagi. Yauu.. hayu.”

Lengan tini ditarik oleh nita kesebuah butik didalam mall itu. Namun, sudah sepuluh butik dan toko pakaian mereka kunjungi. Namun, tak terlihat satupun mereka membawa kantong pakaian. Sampai akhirnya tini melihat sebuah kebayaberwarna cinta dietalase sebuah supermarket terkenal.

“eh nit itu bagus, kayaknya aku cocok. Itu aja yu..”

“ih… aku bingung, dari tadi sampai pegal nyari baju buat kamu, ngga ada yang kamu ambil, inilah.. itulah.. padahal kamu sendiri yang milih.”

“iya dech itu yang terakhir.”

Dengan malas anita mengikuti tini yang sudah lebih dulu mendekati kebaya idamannya.

“wuah.. cocok banget. Yang ini aja ya..”

“iya dech, cepetan .. hungry nih.. lapar…, ah lega juga dah dapat baju buat kamu.”

“tapi nit, kira-kira ka andi datang ga ya keacara itu? Ga kebayang kalau dia lihat aku pakai baju ini diatas catwalk.”

”paling cuman nyengir kuda.”

“yah…, kamu nit malah menghina. Mhh kamu mau langsung pulang atau kerumak aku dulu?”

“pulang ah, capek nih.”

***

Empat hari telah terlewati. Hubungan kartini dan andi kelihatannya semakin dekat. Belakangan ini anita sering ditinggalin oleh tini, gara-garanya tini harus nemuin sang pujaan hatinya. Tapi nita santai saja, mengenai perlombaan, tini sudah berulang kali ikut acara seperti itu, jadi ngga pakai latihan atau persiapan ekstra pun biasanya sicantik berwajah ayu ini selalu  memenangkan perlombaan tsb.

“anita besok acaranya jam sembilan-kan? Aku udah bilang keayah mau pinjam mobil plus supirnya untuk nganterin kita ke bridall paginya, sekalian langsung kita kemall. Tapi supaya kita gampang, malam ini kamu nginap dirumah aku ya…!”

“iya neng tini.”

Jawaban nita pendek sambil menutup handphone-nya.

“ah ga disangka sicantik sudah menyiapkan segala sesuatunya.” Bisik nita dalam hati.

Sore itu nita membereskan pakaian yang hendak ia pakai diacara besok, tak lupa ikut serta juga manik-manik yang nggak pernah absen mengisi penampilan nita. Diwaktu yang sama dikamar tini. Tini sedang mematut-matut diri didepan cermin menggunakan kebaya yang ia beli beberapa waktu lalu. Sesekali ia berjalan bak peragawati senior.

“ah… tak terlalu memalukan.”

Tini memuju dirinya, sebenarnya dia memang cantik apalagi jika menggunakan kebaya dan disanggul, seperti putri raja yang ada difilm-film kolosal.

“kira-kira kang andi datang ga ya? Kemarin sih bilangnya mau datang. Tapi ah gak perlu dipikirin, masih banyak waktu lagian…”

pagi harinya sesuai rencana nita dan tini pergi ke salon kecantikan. Mereka sengaja memakai mobil ayah tini supaya tidak jadi pusat perhatian jika menggunakan angkutan umum, walaupun tini harus mengorbankan ayahnya untuk rela naik bis kota kekantornya.

Untungnya perlombaan peragaan busana baru akan dimulai ketika mereka sampai. Dan setelah diundi kartini mendapat giliran nomor 19 dari lima puluh peserta.

“wah ngga disangka pesertanya banyak banget ya nit, aku dapat nomor 19 nih, tepat diusiaku yang masih 19tahun.”

Anita yang diajak bicara malah diam saja, rupanya nita sedang asyik membaca sebuah puisi yang dipajang disalah satu dinding disebelah kanan sebuah lukisan karya pelukis ternama didekat catwalk.ketika acara peragaan busana usai, mereka berdua mapir kesebuah foodstore terkenal, mereka masih berpakaian lengkap seperti merka baru keluar dari salon tadi pagi, sanggul dikepala tini pun masih menempel dengan apik.

“wah… teteh cantik sekali, benar-benar mirif kartini”

ucap salah seorang pelayan foodstore itu sambil meletakan makanan pesanan nita dan tini.

“aduh tin aku harus ketoilet dulu nih…” tiba-tiba nita beranjak dari kursi dan berlari kebelakang. Disaat yang bersamaan, tini melihat andi melambaikan tangan kearahnya. Serta merta tini pun melambaikan tangannya kearah lelaki yang sedang menghampiriny itu.”

“wah ngga disangka kartini kali ini cantik sekali.”

“ah… kang andi ngada-ngada aja. Kang ko baru datang?”

“siapa bilang baru datang, sejak kamu naik kepanggung diurutan kesembilan belas, aku sudah membidik mu berkali-kali menggunakan kamera ini.” Sambil andi mengangkat tangannya yang memegang sebuah kamera digital.

“ah kang andi bikin malu aja.”

Sesaat mereka terdiam. Dan tiba tini menyebut nama andi, disaat yang sama andipun menyebut nama tini.

“tin…”   “kang..an..”

“ya sudah kang andi saja yang ngomong duluan.”

Tini mengalah, dalam hatinya ia berpikir paling andi mau mengungkapkan cintanya pada tini. Tepat sekali ternyata.

“tini kan kita sudah saling dekat sekarang… aku ingin hubungan kita tidak hanya sekedar senior junior saja.”

“oh… itu”

tini berkata sambil menundukan kepalanya, ia merasa malu dan terlihat rona pink dipipinya.

Sambil mengangkat dagu tini agar pandangan mereka bertemu, andi melanjutkan ucapannya…

“tini, kamu mau ngga jadi kekasih aku? Karna dari dulu sejak peristiwa dikantin itu, aku merasa menyukaimu.”

Pada saat itu juga pikiran tini melayang, ia ingat peristiwa beberapa bulan lalu ketika nita mendorongnya hingga mengenai tandi yang saat itu sedang membawa segelas jus, mereka berdua jatuh dilantai kantin, jus dan gelasnya yang dibawa andipun ikut terjatuh dan tercecer membasahi lantai, serta merta andipun dimarahi ibu kantin. Kejadian itu telah direncanakan nita dan tini sebagai pembuka hubungan andi dengan tini.

“hai… tini.. woy… ko malah bengong sih… kamu mau ga… aku serius nih..”

kata-kata andi membuyarkan lamunan tini.

“e..eh. oh.. engga. Eh maksud aku…”

tiba-tiba merka kembali terdiam dan akhirnya tini pun buka mulut.

“sebenernya kartini mau saja jadi pacar kang andi, masalah dikantin itu sebenarnya sengaja..”

“apa..?” andi kaget setengah mati mendengar itu

“tunggu dulu, aku belum selesai. Tini sudah mengagumi kang andi sebelum peristiwa itu. Sekali lagi tini mau saja jadi pacar kang andi. Tapi kang andi harus jawab dulu pertanyaan tini!”

“apa lagi tin, aku tulus ko menyayangimu apa adanya.”

“bukan itu kang andi.”

“lalu apa?” andi sudah tak sabar lagi apa yang akan terjadi.

“dihari ini, hari kartini ini, hari emansipasi ini. Aku cuman mau nanya satu aja kekamu…”

“apaan tin, cepatan dong, nervous nih.”

“sabar dong kang andi, aku cuman mau nanya…”

tini berdiam sejenak dan sambil berdiri lalu duduk dikursi disebelah andi supaya lebih dekat, lalu dengan sedikit berbisik tini melanjutkan kata-katanya.

“kang andi mau ngga jadi pacar tini..?”….

*** 

One Response to Emansipasi Cinta

  1. thi3 berkata:

    jawabannya apaan c ??????????

    ada lanjutannya L9 kaga ????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: